Banjir Jember Meluas, Ribuan KK Terdampak Usai Hujan Ekstrem Landa 10 KecamatanJember 2026 meluas akibat luapan sungai usai hujan ekstrem. (Foto ilustrasi)

Banjir Jember Meluas, Ribuan KK Terdampak Usai Hujan Ekstrem Landa 10 Kecamatan

Jember  – Bencana banjir Jember 2026 akibat cuaca ekstrem dan hujan deras berkepanjangan membawa dampak luas di sejumlah wilayah. Data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember mencatat sebanyak 7.445 kepala keluarga (KK) terdampak banjir yang merendam sedikitnya 10 kecamatan sejak Jumat (13/2/2026) dini hari.

Hujan dengan intensitas tinggi selama lebih dari 10 jam menyebabkan delapan aliran sungai meluap dan memicu banjir bandang. Kecamatan Rambipuji menjadi wilayah paling parah dengan 3.774 KK terdampak, disusul Balung sebanyak 1.581 KK dan Wuluhan 1.464 KK.

Selain kerugian materiil, bencana ini juga menimbulkan korban jiwa. Seorang warga Desa Kaliwining bernama Siti Nurfadila (55) dilaporkan meninggal dunia akibat tersengat aliran listrik saat membersihkan rumahnya yang masih tergenang air.

BPBD Jember juga mencatat adanya kelompok rentan di lokasi terdampak, terdiri dari 74 balita, 82 lansia, serta empat penyandang disabilitas yang membutuhkan penanganan khusus selama masa tanggap darurat.

Dampak banjir tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga merusak infrastruktur dan fasilitas publik. Tiga jembatan di wilayah Panti dan Sukorambi dilaporkan ambruk, sementara sejumlah masjid, balai desa, pondok pesantren, serta gedung pendidikan seperti SD, TK, dan TPQ ikut terendam. Di kawasan pesisir Puger, sebanyak 12 unit speedboat milik nelayan hanyut terbawa arus sungai yang meluap.

Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, mengatakan pihaknya terus melakukan koordinasi lintas instansi untuk mempercepat proses evakuasi dan penanganan warga terdampak banjir.

“Kami terus melakukan pemantauan dan evakuasi warga terdampak bersama Basarnas, relawan, serta unsur TNI dan Polri. Prioritas utama saat ini adalah memastikan keselamatan kelompok rentan serta pemenuhan kebutuhan dasar seperti air bersih dan logistik melalui dapur mandiri di titik-titik pengungsian,” ujar Edy dalam keterangannya, Sabtu (14/2/2026).

Hingga kini, ratusan warga masih bertahan di lokasi pengungsian sambil menunggu kondisi air surut. Pemerintah daerah mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem susulan yang berpotensi memicu banjir lanjutan di wilayah Jember dan sekitarnya. (alr)