Jakarta – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis temuan awal terkait kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik PT Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Maros, Sulawesi Selatan. Dalam laporan tersebut, sistem navigasi satelit pesawat disebut sudah mengalami penurunan akurasi sejak fase awal penerbangan.
Berdasarkan data investigasi, status Global Navigation Satellite System (GNSS) berada dalam kondisi degraded sejak mesin pesawat dinyalakan. Kondisi ini menunjukkan adanya gangguan pada integritas data posisi yang diterima dari satelit.
KNKT menjelaskan bahwa indikator penurunan akurasi sempat kembali normal ketika pesawat mencapai ketinggian sekitar 7.700 kaki. Namun, masalah kembali muncul sekitar satu menit sebelum pesawat turun dari ketinggian jelajah 11.000 kaki dan terus berlangsung hingga akhir rekaman Flight Data Recorder (FDR).
“Dalam kondisi degraded, kru seharusnya melakukan pemeriksaan silang menggunakan sistem navigasi lain untuk memastikan posisi pesawat tetap akurat,” tulis KNKT dalam keterangan resminya.
Pesawat yang menggunakan sistem HT1000 Global Navigation Management System tersebut menampilkan posisi tiga dimensi melalui layar Electronic Horizontal Situation Indicator (EHSI) di kokpit. Dari hasil analisis, ditemukan perbedaan data posisi antara yang terlihat di kokpit dengan sistem pengawasan lalu lintas udara berbasis ADS-B.
Pada awal penerbangan, selisih posisi hanya sekitar 0,6 nautical mile. Namun setelah status GNSS kembali menurun, perbedaan lintasan meningkat hingga sekitar 17 nautical mile menjelang akhir rekaman. Kondisi ini berpotensi membuat posisi yang dipantau pilot berbeda dengan yang terlihat oleh pengatur lalu lintas udara di darat.
Menjelang pendekatan ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, perbedaan posisi masih terjadi. Data FDR menunjukkan pesawat berada sekitar 1 nautical mile di barat waypoint DAKAD, sementara data ADS-B mencatat posisi sekitar 15 nautical mile di tenggara titik yang sama.
KNKT menegaskan laporan tersebut masih bersifat awal dan belum menyimpulkan penyebab pasti kecelakaan. Proses investigasi lanjutan masih berlangsung guna mengkaji faktor teknis, operasional, serta aspek keselamatan lainnya.
“Laporan awal ini bertujuan meningkatkan keselamatan penerbangan dan bukan untuk menentukan pihak yang bersalah,” demikian keterangan KNKT. (ref)
Ilustrasi pesawat ATR 42-500 terbang rendah di tengah awan dramatis, terkait laporan awal KNKT soal gangguan akurasi GPS sebelum kecelakaan di Maros. (Foto ilustrasi) 













Komentar
Tuliskan Komentar Anda!